Pengalaman Diikuti Jin Berkepala Babi saat Mendaki Gunung Rinjani

pengalaman-diikuti-jin-berkepala-babi-saat-mendaki-gunung-rinjani

Pengalaman Diikuti Jin Berkepala Babi saat Mendaki Gunung Rinjani – Ketika kami tetap kecil, banyak ilmu sains yang kami menerima begitu saja dan terus kami percayai selama hidup yang pada akhirnya diketahui ternyata basic ilmu selanjutnya salah. Ini bukan tidak benar guru, orangtua, dokter, ilmuwan, peneliti atau siapapun.
Dua kali aku mendaki Rinjani, dua kali juga aku mengalami pengalaman menyeramkan. Pengalaman pertama menyeramkan gara-gara aku hampir mati. Saat itu aku sakit dan ditinggal rombongan tanpa makanan, tanpa tenda. Pengalaman ke-2 menyeramkan gara-gara kami diteror oleh jin penunggu Rinjani.

Pengalaman Diikuti Jin Berkepala Babi saat Mendaki Gunung Rinjani

pengalaman-diikuti-jin-berkepala-babi-saat-mendaki-gunung-rinjani

Kejadian itu berlangsung pada tahun 2014 dikala aku mendaki Rinjani ke-2 kali dengan dua sobat saya. Keduanya kebetulan belum pernah mendaki Rinjani. Singkat cerita hari itu pun tiba—hari dikala teror jin penunggu Rinjani itu menghantui aku dan rekan aku bahkan rekan aku sampai diikuti pulang ke rumahnya….

Kisah horor ini bermula dikala kami dalam perjalanan turun. Saat perjalanan turun kami sempatkan bermalam di Segara Anak. Di danau ini terdapat suatu pemandian air panas alami mgslotonline yang terlihat berasal dari panas perut Rinjani. Saat itu aku dan rekan aku dipengaruhi untuk nikmati kolam air panas, berdua saja gara-gara rekan satunya memiliki giliran masak dan melindungi tenda.

Sesampainya di pemandian air panas aku memandang seorang dengan penampilan seperti dukun-dukun dalam film horor Suzzanna—bajunya hitam mengfungsikan penutup kepala berasal dari kain tapi bukan blangkon dan berkumis bapang.

Kolam air panas ini seperti kolam renang yang memiliki sebagian tingkatan kedalaman, bedanya dalam kolam air panas ini bukan kedalaman yang membedakan tapi tingkat kepanasan yang makin menjauh berasal dari pusat panasnya makin berkurang panasnya. Kolamnya seperti tangga bertingkat makin ke bawah makin kurang panasnya.

Saya cuma berani pada kolam ketiga tetap panas tapi tidak sampai panas untuk merebus telur seperti kolam satu, kolam tempat para pendaki biasa merebus telur. Bapak dukun itu berlangsung ke arah kolam satu tapi tidak untuk memasak telur tapi untuk mandi, aku mengulang lagi untuk mandi. Gila aku terkaget-kaget heran apa kulitnya seperti Lord Oden dalam serial One Piece yang dikala direbus minyak panas tidak terbakar.

Tidak lama kolam air panas ini ramai didatangi tidak cuma para pendaki tapi juga peziarah gara-gara sementara itu baru habis Lebaran. Menurut informasi yang aku menerima para peziarah ini mampir untuk mencari wangsit, beribadah, cari ilmu, atau bahkan mengadu ilmu seperti papa berkumis bapang itu.

Hari itu juga sehabis mandi dan makan kami menuruni Rinjani lewat jalan Senaru. Sepanjang perjalanan kami memandang pohon-pohon tinggi yang memicu siang merasa menjelang menjelang malam. Sinar matahari tidak sukses menembusi pohon itu memicu jalan turun kami gelap. Namun patut disyukuri gara-gara tidak terkena terik matahari seperti sementara mendaki lewat Sembalun yang isinya cuma padang sabana.

Suasana asyik tiba-tiba berubah jadi horor dikala kami merasa seperti tersedia mata yang mengikuti, dengan dengannya tersedia suara burung hantu yang tidak berhenti—bahkan sehabis 30-an menit kami berjalan. Rasanya kok burung hantu itu tidak menjauh tambah makin mendekat, seperti ikuti kami.

Perasaan horor makin menjadi-jadi saja itu gara-gara meski kami jalan dengan tapi terpisah dengan jarak tiap-tiap lebih kurang 10-20 meter. Hal ini disebabkan kebolehan fisik yang berbeda, cuma dikala kami beristirahat baru bersama. Saya sementara itu adalah yang paling depan, diikuti Yayan dan paling belakang Doni.

Tiba-tiba tersedia yang tapi berdiri tegak tapi bukan keadilan, ternyata bulu-bulu halus di tengkuk saya. Penyebabnya adalah sebuah pohon besar, begitu tinggi, dan mengeluarkan wangi. Di kaki pohon itu tersedia sesuatu yang sesuatu dan ternyata wangi itu berasal berasal dari sana, menyan, serta bahan sesembahan. Percaya atau tidak tersedia nasi kotak—ini jin penunggu pohon Rinjani habis seminar atau apa, kok dikasi nasi kotak?

Di sementara kami kelaparan, kehausan, dan sisa bekal yang tinggal sedikit ini tambah tersedia makhluk yang bukan manusia diberi makan nasi kotak, roti, dan air botol. Sakit hati rasanya. Pengin ambil tapi cemas kualat, akhirnya aku menanti rekan sekalian istirahat. Begitu Yayan tiba dia memandang sesembahan itu, ia segera panas, bukannya diambil tambah ditendang. Teman aku yang satu ini memang panasan. Mungkin pengaruh kecapekan dan juga kelaparan membuatnya bereaksi berlebihan.

“Serem nte hep, nendang sesembahan begitu. Ntar yang memiliki marah.”

“Godek (monyet)… kami kelaperan makanan kok dibuang-buang. Mana sudah, suruh terlihat yang memiliki itu!”

“Santai hep. Istirahat udah dulu. Kita menanti Doni.”

“Yaok lama sekali anak itu. Mungkin dia kesasar hep.”

Sepuluh menit berlalu, belum terlihat batang hidung Doni. Beberapa orang yang jauh di belakangnya merasa muncul. Hampir 1/2 jam tapi Doni belum terlihat juga. Kami merasa panik, takut, jangan-jangan dia kenapa-kenapa. Sudah dag dig dug rasa hati, eh, yang dikhwatirkan tambah terlihat sambi cengar-cengir membawa sebuah tongkat yang digunakan untuk membantu menahan bebannya dikala turun supaya tidak membebani lutut dan telapak kakinya, cerdas sekali.

Setelah lumayan beristirahat dan makan roti sebagai bekal untuk lanjut turun ke bawah, kami melanjutkan perjalanan. Satu jam berlangsung perasaan horor makin mencekam, seperti tersedia yang mengikuti. Tak tersedia satu pun yang berbicara, meski tidak jalan berdampingan kami tetap mampu saling melihat.

Yayan udah tidak bersuara sama sekali, cuma si Doni saja yang terlihat tetap ceria bahkan menyahuti suara burung hantu. Yayan yang berlangsung makin lambat tidak seperti biasanya, seperti beban di tas carrier-nya makin berat saja. Entah kenapa aku cemas dan menoleh ke belakang memandang kondisinya, aku kaget bukan main tersedia sesosok sama manusia tapi berkepala babi mengikutinya, moncongnya begitu dekat dengan kepala Yayan. Saya mau berteriak tapi suara aku tidak keluar, kaki aku lemas seketika.

Yayan duduk terjatuh kepayahan dan si Kepala Babi di belakangnya menghilang. Saya usap mata saya, si Babi tak ada, mungkin aku terlampau lelah, mungkin saja makhluk tadi cuma imajinasi saya.

Kami lanjut jalan tanpa suara, sampai tidak merasa udah berada di pos satu. Si Doni tak tersedia sepertinya berlangsung dengan grup lainnya. Hanya aku berdua dengan Yayan. Di berugak pos satu akhirnya aku mendengar suaranya, “Seperti tersedia yang ngikutin,” katanya. Dia mendengar seperti orang mendengus pas di belakang kepalanya. Begitu dia menoleh sosok itu tak ada.

Tiba-tiba saja ia menggigil ketakutan. “Suara dengusan itu mampir lagi,” katanya. Saya menoleh melihatnya, seketika perasaan merinding menjalari tubuh saya, makhluk itu, si Babi memandang aku dengan mata merah, melotot seolah mengancam. Saya mau bicara tapi kalimat aku nyangkut di tenggorokan, lantas tertelan. Yayan bangkit dan lanjut berlangsung terseok-seok. Saya selamanya tidak mampu berbicara.

Lama rasanya berlangsung sampai hampir menjelang magrib belum tiba juga. Rasanya dekat tapi kok jauh sekali. Normalnya sebelum pukul 17.00 kami selayaknya udah tiba. Tapi apa mau dikata, Yayan kewalahan menggendong si Babi dan aku ngos-ngosan gara-gara nafas tersengal akibat takut. Pintu gerbang Rinjani merasa terlihat berasal dari kejauhan. Tak lama lantas lewatlah warga lokal mengenakan pakaian hitam membawa sebagian kayu bakar menyalip kami. Ia memandang ke arah kami lantas mendekati saya. Kok rasanya aku pernah melihatnya. Ternyata papa dukun yang aku memandang di air panas tadi.

“Temanmu diikutin babi.”

“Iiyyya, Paaak. Tolongin dia, Pak.”

Entah bagaimana suara aku mampu terlihat dan aku memohon dengan terbata-bata. Bapak itu lantas mengeluarkan semacam buntelan berwarna hitam di lempar ke arah si Babi dan Babi itu lenyap. Yayan yang berlangsung membungkuk seketika tegak. Ia mendatangi papa itu dan berterima kasih.

Bapak itu menasihati kami dan menghendaki kami untuk berhati-hati, terkecuali memandang makanan tergeletak di bawah pohon besar dekat pos dua, jangan diambil. Saya dan Yayan saling berpandangan—dalam hati aku bicara seandainya papa ini jelas yang ditunaikan Yayan, Bapak ini mungkin tidak akan membantu.

***

Dalam perjalanan pulang mengfungsikan mobil pick up, Yayan terus menceritakan pengalaman horornya. Doni tidak terlampau mendengarkan gara-gara asyik ngobrol dengan rekan seperjalannya dikala turun. Yayan menyatakan dia tobat jalankan seperti tadi, itu pengalaman paling menyeramkan yang pernah dia alami.

“Kau pikir itu udah selesai?” Saya mendengar suara berbisik di telinga. Tidak mungkin tersedia orang berbisik mampu terdengar di tengah laju mobil dan deru angin. Saya cuek saja gara-gara memandang Yayan udah nyanyi-nyanyi ceria dengan suara sumbangnya.

Setelah tiba di tempat tinggal aku segera mandi bahkan sampai luluran fungsi melenyapkan daki. Selesai mandi aku segera bersiap-siap untuk tidur, aku mengambil hape untuk dimatikan supaya tidak terganggu. Saya memandang tersedia begitu banyak panggilan tak terjawab berasal dari nomor Yayan. Saya membuka pesan di BBM berasal dari Yayan.
Sering kali penyebabnya adalah gara-gara kurangnya teknologi yang mumpuni sementara itu supaya membawa pada kesimpulan yang gak tepat. Apa saja sih kekeliruan pemahaman dunia sains yang fatal? Ini 10 di antaranya!

1. Banteng marah memandang warna merah

Selama bertahun-tahun, rasanya kami perlu berterima kasih pada para matador dan banyak belajar lainnya yang memicu kami yakin bahwa banteng akan jadi marah dikala memandang warna merah. Nyatanya, menurut pakar Biologi hewan, banteng adalah tidak benar satu hewan yang buta warna.

Jadi apa yang memicu banteng marah? Pergerakan berasal dari kain merah itulah yang memicu banteng itu kesal.

2. Rambut dan kuku akan selamanya terus tumbuh
Mulai berasal dari keilmuan sains lama, kami dibuat yakin bahwa rambut dan kuku akan terus tumbuh bahkan sehabis kami meninggal dunia. Alasannya gara-gara kelenjar yang bertanggung jawab mengenai itu akan selamanya memicu sel baru.

Padahal begitu meninggal, tubuh kami akan merasa mengalami pembusukan sel. Alasan kenapa rambut dan kuku terlihat lebih panjang adalah gara-gara dehidrasi kulit yang membuatnya jadi kering dan tertarik ke arah berlawanan.

3. Indra manusia itu cuma lima
Kita tumbuh dewasa dengan mempercayai bahwa kami memiliki lima indra: perasa, pencium, pendengar, penglihat dan pengecap. Namun itu semua berdasarkan sains. Kita semua memiliki jauh lebih banyak berasal dari lima indra.

Dunia sains udah membagi ke dalam lima kategori dan mengatasi lagi ke dalam indra-indra yang berbeda, seperti: sentuhan, temperatur, tekanan dan lain sebagainya. Jadi dikala tersedia orang yang bilang bahwa indra keenam cuma tersedia di film horor, anda memiliki jawaban ilmiah untuk merespons mereka.

4. Sambaran petir gak pernah berlangsung di titik yang sama berturut-turut
Ketika bicara soal cuaca, sains lama memicu kami yakin bahwa petir gak akan menyambar tempat yang sama dua kali. “Fakta” ini dikabarkan pertama kali oleh seorang meteorologis di tidak benar satu kabar perkiraan cuaca. Padahal petir gak cuma mampu menyambar dua kali di titik yang sama, bahkan lebih berdasarkan statistik dan gak terhindarkan/gak terduga.

5. Tembok besar Tiongkok mampu dilihat berasal dari luar angkasa
Salah satu keajaiban dunia, tembok besar Tiongkok adalah tidak benar satu karya spektakuler manusia yang mampu dilihat berasal dari luar angkasa. Dari rancangan ini akhirnya lahir sebuah mitos yang dikemas sebagai fakta bahkan oleh para ilmuwan: bahwa Kamu mampu memandang tembok besar Tiongkok berasal dari bulan. Teori ini akhirnya diuji dan ternyata anda cuma mampu memandang cahaya-cahaya di permukaan bumi berasal dari bulan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *